Jumat, 09 Januari 2009

Perangkap Keterbatasan

Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga berlibur ke Lampung, sekedar untuk melihat dan mencoba menunggang gajah-gajah di sana. Menyaksikan mahluk terbesar yang ada di muka bumi ini merupakan hal yang sangat mengagumkan. Gajah adalah hewan mamalia yang lembut juga sangat kuat tenaganya.Seekor gajah jantan memiliki kekuatan dan mampu untuk menumbangkan sebuah pohon dan mengangkat batang kayu gelondongan hanya dengan menggunakan belalainya. Satu hal yang mengejutkan adalah tidak adanya kandang untuk gajah. Mungkin kita dapat mengurung singa, beruang dan harimau tapi tidak pernah ada kandang untuk gajah. Mengapa bisa begini? Bagaimana cara menahan mahluk yang sangat kuat ini dari niatan melarikan diri. Yang mereka lakukan hanya mengikatkan seutas tali (atau rantai tipis) ke kaki gajah dan mengikatnya ke sebuah batang yang ditancapkan ke tanah. Sekali kakinya sudah terikat, maka ia tidak akan mencoba melarikan diri lagi. Sekarang, apakah Anda pikir gajah tersebut tidak mampu menghancurkan rantai atau tali tersebut bila dia mau? Tentu saja bisa dan mampu, bahkan bisa menumbangkan sebuah pohon. Tapi mengapa dia tidak memutuskan tali tipis yang melingkar di kakinya? Jawaban yang saya dapatkan dari para pawang gajah adalah dengan membiarkan gajah-gajah tersebut percaya bahwa dia tak bisa memutuskan tali tersebut. Keadaan ini berlangsung sejak kecil… Ketika seekor bayi gajah lahir dan masih terlalu lemah untuk berjalan bahkan berdiri, mereka (para pawang) mengikat kaki gajah kecil itu ke sebuah batang yang ditancapkan ke tanah. Dan dapat dipastikan ketika bayi gajah tersebut mencoba berlari menuju induknya, ia tidak dapat memutuskan tali tersebut. Ketika ingin melarikan diri, tali itu akan menggenggam kaki gajah dan dia akan jatuh di atas tanah. Tidak jera, sang gajah akan berdiri dan mencoba kembali. Dia akan berlari menuju induknya hanya untuk mendapatkan kaki yang terikat dan badan yang terentak ke tanah. Setelah mengalami kesakitan yang berulang-ulang, suatu ketika, sang gajah tidak akan berusaha menarik rantai lagi. Pada saat itu terjadi, para pawang tahu bahwa gajah tersebut telah terkondisi untuk terperangkap sepanjang hidupnya. Saya benar-benar tertarik sekali dengan cerita sang pawang gajah, dan ketika saya menyaksikan bagaimana mahluk kuat ini diamankan hanya dengan rantai tipis yang seharusnya dengan mudahnya dapat diputuskan oleh sang gajah. Analogi cerita di atas adalah saya menyaksikan,bagaimana orang-orang yang saya temui tiap hari mengalami keterperangkapan yang sama dengan keterbatasan keyakinan mereka dan kebiasaan yang dengan mudah dapat diubah namun tidak mereka lakukan. Sebagai manusia, kita sama seperti gajah dengan berbagai macam potensi untuk mendapatkan mimpi apapun yang kita inginkan, dari menjadi seorang jutawan sampai menjadi orang yang dapat membuat perbedaan di dunia. Namun, cukup banyak orang yang dengan kemampuannya tidak berani mengambil tindakan karena mereka percaya bahwa mereka tidak dapat melakukannya. Mereka kuatir bahwa yang mereka lakukan akan gagal total. Bisa jadi sewaktu muda, mereka gagal dan jatuh berkali-kali sama seperti bayi gajah tersebut. Mungkin sewaktu mereka muda, orang tua mereka mengatakan mereka malas dan bodoh. Mungkin teman-teman mereka menjuluki mereka si kuper. Mungkin guru mereka pernah mengatakan mereka tidak dapat melakukan apa-apa. Sebagai hasil dari keadaan masa lalu, orang-orang akan berpikir bahwa mereka tidak dapat melakukan apapun. Sama seperti gajah tersebut, mereka berpikir bila aku tidak bisa melakukannya di masa lalu bagaimana bisa aku melakukannya sekarang? Di masa lalu aku seorang yang pemalas, jadi bagaimana bisa aku menjadi orang pekerja keras. Di masa lalu aku tidak percaya diri, bagaimana aku bisa percaya diri sekarang. Di masa lalu aku seorang yang menangkap pelajaran dengan lambat, sekarang bagaimana aku bisa menangkap pelajaran dengan cepat. Di masa lalu aku tidak bisa berbicara dengan baik, bagaimana aku bisa sekarang? Apa yang tidak dilihat oleh orang-orang ini adalah bahwa masa lalu tidak sama dengan masa depan. Mereka tidak menyadari sama seperti yang dialami gajah tersebut, bahwa sebenarnya mereka bukan orang yang sama lagi. Sang gajah tidak menyadari di masa lalu dia tidak memiliki kekuatan seperti yang ia miliki sekarang. Saya ingin Anda tahu bahwa tiap hari Anda akan bangun menjadi orang yang berbeda. Orang yang semakin bertambah ilmu, pengalaman dan orang yang bijaksana. Tahukah Anda bahwa jutaan sel di tubuh kita mati setiap hari dan digantikan dengan yang baru. Bila Anda telah membiarkan keyakinan dan kebiasaan yang lama merantai diri Anda, bukankah sudah saatnya menggunakan tenaga dan kemauan Anda sekarang untuk melepaskan diri dari penjara ketidakmampuan dan melangkah menuju kebebasan, sukses dan kemapanan yang memang berhak kita dapatkan. “CARI! dan Anda akan mendapatkannya. Hidup adalah untuk mencari. Jika Anda tidak mencari, Anda akan stagnan. Diam di tempat adalah langkah mundur, waktu ataupun dunia tidak akan menunggu Anda. Jadi cari, atau mati secara perlahan lahan” - Dato Vijay Eswaran - “Jika Anda membatasi pilihan hanya pada apa yang tampaknya mungkin atau masuk akal, Anda telah melepaskan diri dari apa yang sungguh-sungguh Anda inginkan, dan yang tertinggal hanyalah kompromi dan keterpaksaan” - Robert Fritz -
source: unknown

Minggu, 28 Desember 2008

"Sampah Telah Menjadi Nafkah Mereka"

“Dalam 2 tahun ini, kami sedang merencanakan untuk mengontrak rumah yang lebih baik daripada terus tinggal di TPA ini. Rencananya rumah itu mau kami buka kedai sampah (kelontong) supaya penghasilan bisa dipakai untuk sekolah anak-anak”, demikian ungkapan perasaan seorang pemulung di lokasi TPA Simpang Selayang, Medan


        Udara masih sangat dingin ketika Pak Rahman dan Tiam istrinya bergegas menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Desa Namo Bintang, Simpang Selayang, Medan. Waktu itu jam masih menunjukkan angka 05.00 WIB. TPA yang berada di Kecamatan Medan Tuntungan itu merupakan lokasi akhir pembuangan sampah warga Medan sekitarnya yang setiap harinya diangkut oleh truk-truk besar dan beratnya hampir mencapai 5 - 10 ton. Lokasi inilah yang kemudian menjadi tempat Pak Rahman dan istrinya mencari nafkah sehari-hari dengan "memulung" beragam jenis sampah mulai dari plastik, kertas, karton dan kaleng yang kemudian dijual kepada penampung yang setiap hari sudah menunggu di lokasi TPA. 
        Selain itu, mereka juga mengolah sampah-sampah organik berupa sayur mayur dan buah-buahan busuk yang diangkut dari pasar menjadi pupuk kompos. Sampah berupa sayuran dan buah busuk mereka masukkan dalam satu lobang besar berukuran 1x1 meter lalu ditimbun dengan kapur dan tanah. Dalam 2 minggu, mereka bisa memperoleh kompos yang berkualitas bagus sebanyak 50 - 80 Kg. Kompos lalu dikemas dalam plastik seberat 2 Kg dan hanya diberi label berupa tulisan spidol hitam. Lalu kompos dihantar ke tempat penjualan bunga yang berada di sepanjang jalan Hj. Adam Malik, Glugur, Medan. Hasil penjualan plastik, kertas, kaleng bekas dan kompos sebahagian dipakai untuk membeli kebutuhan pokok dan membayar kontrak rumah dan sebahagian lagi untuk membayar uang sekolah anak-anaknya. Kegiatan ini hampir setiap hari dilakukan kedua suami istri itu, bahkan mulai dari pukul 05.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB. 
        Ya, pekerjaan mereka adalah pemulung sampah, dan ini sudah mereka lakoni sekitar 2,5 tahun lamanya setelah pada awal Januari 2005 mereka akhirnya mengungsi dari Kota Banda Aceh yang turut dilanda bencana Tsunami. Mereka masih bisa bersyukur setelah mereka sekeluarga selamat dari bencana yang telah merengut ribuan nyawa itu. Meskipun lokasi kediaman mereka hanya berjarak 300 meter dari lokasi TPA, namun mereka tidak pernah sekalipun terlambat bangun. Hal ini dituturkan Tiam, istri pak Rahman yang selalu setia mendampingi suaminya bekerja meskipun usia mereka sudah hampir mencapai 50 tahun. Ketika pada satu kesempatan saya bertemu mereka di lokasi TPA, saya coba bertanya kenapa harus pagi-pagi sekali mereka keluar menuju TPA tersebut? Pak Rahman hanya tersenyum dan mengatakan, bahwa kondisilah yang membuat mereka memang harus pagi-pagi buta sekali menuju TPA tersebut karena truk-truk yang membawa sampah dari kota Medan sudah tiba di lokasi TPA pukul 05.00 WIB. Bila terlambat sedikit, maka mereka harus gigit jari tidak akan mendapatkan penghasilan karena banyaknya jumlah pemulung yang sudah tiba disana setiap paginya. "Kalau sampai kesiangan tiba disana, wah.......kita malah bisa ditertawai teman-teman pemulung dek?", katanya sambil memilah-milah plastik yang sudah mereka kumpulkan dalam sebuah karung plastik. "Adek bisa bayangkan, kalau truk-truk itu datang dan membuang sampah yang dibawanya, maka ratusan orang pemulung sudah siap menunggu dibawahnya, dan malah pernah terjadi kecelakaan yang hampir merengut nyawa seorang pemulung yang hampir tertimpa timbunan sampah yang dikeluarkan dari truk", ceritanya sambil menikmati kopi yang selalu dibawanya dalam botol minuman mineral saat dia bekerja. Untuk tidak mengganggu pekerjaan mereka, aku menyempatkan diri berkeliling lokasi TPA yang luasnya sekitar 5 Ha dan hampir seluruhnya ditutupi sampah yang tingginya mencapai 5 - 10 meter. Bahkan ketika aku berada ditengah-tengah gunungan sampah, nafasku tersesak karena aromanya yang tidak sedap. Aku bahkan tidak bisa membayangkan seperti apa para pemulung bisa bertahan bila berada di lokasi itu. 
        Sampah industri, pasar dan rumah tangga yang dibawa puluhan truk sampah menuju lokasi TPA itu bisa mencapai 10 - 20 ton setiap harinya. Kita bisa bayangkan, dalam 1 minggu saja, sampah yang ditimbun di lokasi itu bisa mencapai 60 - 120 ton. Sedangkan sampah yang bisa dimanfaatkan oleh para pemulung untuk dijual hanya sekitar 1 - 5 ton setiap harinya. Tentu saja lokasi itu tidak pernah sepi dari aktifitas para pemulung meskipun ada papan larangan bagi pemulung yang dibuat oleh Dinas Pertamanan Pemkot Medan. Ketika akan kembali ke tempat pak Rahman bekerja, saya memperhatikan sekumpulan anak-anak balita sedang bermain di sekitar timbunan sampah yang sudah dibakar. Saya begitu prihatin dan khawatir anak-anak itu bisa mengalami kecelakaan karena sampah-sampah yang dibakar kadang tidak kelihatan berasap diatasnya, padahal dibawah sudah menjadi bara.Akhirnya saya melarang anak-anak itu bermain dilokasi timbunan sampah yang mengeluarkan asap, meskipun dari raut wajah mereka tidak senang dengan larangan saya. Pak Rahman dan istrinya kelihatan masih sibuk memilah-milah sampah yang baru mereka ambil dari lokasi TPA. 
        Sebahagian sampah plastik mereka tumpuk disatu tempat, sebahagian lagi adalah sampah kertas dan kaleng bekas yang mereka tumpuk ditempat lain. Sampah plastik yang kelihatan basah kemudian mereka potong dan bagi dua, lalu dicuci dan dijemur. Menurut pak Rahman, harga plastik dan kaleng bekas lebih mahal dari sampah kertas karena menurut yang mereka dengar dari para penampung bahwa sampah plastik dan kaleng bekas itu akan didaur ulang lagi untuk dijadikan plastik dan kaleng baru. Biasanya untuk sampah plastik yang sudah dibersihkan, harganya sekitar Rp. 6000/kg, sedangkan kaleng bekas harganya sekitar Rp.2300/kg. Setiap harinya, pak Rahmat dan istrinya hanya bisa memperoleh sekitar 10 kg sampah plastik dan 25 kg kaleng bekas. Sedangkan dari hasil penjualan kompos yang biasanya dijual Rp.3.500/bungkus kepada penjual bunga, mereka bisa meraih untung sekitar Rp.80.000/hari. Menurut mereka, hasil penjualan itu sudah bisa membeli kebutuhan mereka sehari-hari dan untuk biaya pendidikan 2 orang anaknya yang kini sudah duduk di kelas 2 SMA dan 3 SMP. 
        Dipikiranku tiba-tiba saja muncul tanda tanya besar, akankan nantinya setelah menyelesaikan pendidikannya, anak-anak mereka akan mengikuti jejak orangtuanya sebagai pemulung di lokasi TPA itu? Atau, adakah kemungkinan anak-anak mereka akan menggapi cita-cita yang lebih tinggi?. Pertanyaan itu mungkin masih harus menunggu jawaban, dan jawaban itu tentunya hanya ada di dalam perjalanan hidup mereka yang selalu bergelut dengan sampah-sampah kotor produksi orang-orang kota. Ketika pak Rahman dan istrinya telah menyelesaikan pekerjaannya memilah-milah sampah yang kemudian sore harinya akan dijual kepada penampung, sayapun berpamitan untuk pulang karena cuaca siang yang menyengat membuat kerongkonganku kering. Aku mengucapkan selamat tinggal kepada Pak Rahman dan bergegas menghidupkan mesin sepeda motorku untuk kembali pulang. Disepanjang jalan, aku hanya bisa mensyukuri kehidupan yang masih bisa kujalani dan kunikmati, termasuk pendidikan yang kuperoleh dari orang tua sejak SD hingga Sarjana. Dan aku berharap 2 anak Pak Rahman, bisa menggapai cita-cita itu, amin.
)* Paul M.Simanjuntak (CO YSKD - SUMUT)

“Bakau Habis, Nafkahpun Hilang”

        Bagi siapa saja yang pernah datang ke Desa Jaring Halus, khususnya diera 90-an hingga tahun 2000 masih bisa melihat dan menikmati indahnya hamparan hutan bakau yang tumbuh mengitari kawasan pulau Jaring Halus dan beberapa kawasan daratan di sekitarnya. Rasa nyaman akan terasa ketika kapal motor yang kita tumpangi melintasi pinggiran-pinggiran pantai menuju Pulau Jaring Halus yang ditumbuhi ribuan bahkan jutaan pohon bakau yang tumbuh dengan subur dan rindang. Tapi apa yang kita lihat kini? Kesedihan dan keprihatinanlah yang terasa karena hutan-hutan bakau kini sudah tak kelihatan indah lagi seperti dulu. Lokasi lahan bakau sudah rusak parah dirambah oleh banyak pihak yang tidak memperdulikan kelestarian alam disekitarnya. Pantai Paluh Tongkang yang ada di Dusun I Desa Jaring Halus menjadi salah satu bukti parahnya tindakan pengerusakan hutan bakau yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. 
        Kawasan hutan bakau seluas 4 Ha itu kini hanya dipenuhi lumpur-lumpur dan beberapa batang pohon bakau yang sudah tak memiliki daun dan ranting. Menurut Pak Jihar, salah seorang penduduk Desa Jaring Halus dan merupakan ketua kelompok nelayan tangkul yang kini menjadi komunitas dampingan YSKD, bahwa kerusakan hutan bakau di kawasan Jaring Halus semakin diperparah oleh peristiwa tsunami yang melanda kawasan NAD dan Sumatera Utara pada tahun 2004. 
        Rusaknya puluhan bahkan ratusan hektar tanaman bakau (mangrove) di sekitar kawasan pantai desa Jaring Halus ternyata memberi dampak negatif yang cukup besar terhadap masyarakat khususnya nelayan desa Jaring Halus yang selama ini menggantungkan hasil tangkapan mereka berupa kepiting bakau, udang dan kerang dari lahan tanaman bakau tersebut. Akibat kerusakan bakau yang sangat parah, nelayan akhirnya harus kehilangan pendapatan dari pohon bakau yang selama ini menjadi tempat kepiting, udang dan kerang tinggal dan bertelur. 
        Bagi penduduk Desa Jaring Halus yang sebahagian besar penduduknya bekerja sebagai nelayan, tanaman bakau sangat berguna sekali bagi kehidupan mereka, selain berdampak positif bagi upaya mengatasi ancaman bencana yang disebabkan oleh terjangan ombak dan angin puting beliung juga memberi manfaat untuk peningkatan hasil tangkapan nelayan karena tanaman bakau merupakan tempat bertelur dan berlindung bagi kepiting, udang, ikan dan kerang. Dan umumnya, bakau menjadi tempat penangkapan kepiting bagi nelayan tangkul. Kepiting bakau memiliki rasa yang sangat enak bila dihidangkan sehingga hanya dikonsumsi oleh orang yang berkantong tebal. Selain menguntungkan bagi nelayan tangkul (penangkap kepiting), juga menguntungkan bagi nelayan ambai (penangkap udang) dan nelayan pancing (penangkap ikan). 
        Untuk mengatasi kerusakan hutan bakau yang semakin parah, maka YSKD bekerjasama dengan kelompok Perempuan dan Laki-laki Nelayan Tangkul Desa Jaring Halus telah mengadakan kegiatan penanaman Bakau (Mangrove) di kawasan pantai Paloh Tongkang, Dusun I, desa Jaring Halus. Kegiatan yang diikuti sekitar 35 orang warga dusun I desa Jaring Halus dihadiri kaum laki-laki, perempuan dan anak-anak. Kini sebahagian lahan bekas tanaman bakau seluas 4 Ha itu telah ditanami 30.000 batang bibit bakau danmasih dibutuhkan sekitar 70.000 – 100.000 batang lagi bibit bakau untuk bisa menanami seluruh lahan. Sementara itu, menurut pendapat kelompok perempuan nelayan Tangkul, bahwa kegiatan penanaman bakau ini harus rutin dilakukan agar bisa mengatasi masalah kerusakan lingkungan yang terjadi di desa Jaring Halus. Bila masyarakat masih terus melakukan penebangan bakau secara liar, maka bencana akan tetap mengancam kehidupan warga desa Jaring Halus. Dengan semangat, para ibu anggota kelompok perempuan nelayan Tangkul yang turut terlibat dalam kegiatan itu menyatakan komitment mereka untuk turut bersama suami (kelompok laki-laki) bekerjasama dalam melakukan penanaman bakau.

)* Paul M.Simanjuntak (CO YSKD - SUMUT)

Jumat, 26 Desember 2008

OUT WORLD BOUND