Selasa, 12 Mei 2009

PDLH WALHI DI PATRA JASA

Teman-teman aktivis NGO anggota WALHI SUMUT sedang serius berdiskusi dicelah-celah waktu break persidangan PDLH WALHI SUMUT di Hotel Patra Jasa Parapat Tahun 2007 yang lalu. Ada Gondrong sedang menghisap rokoknya, ada Jimy dan Bang Alun sedang berdiskusi.

Senin, 11 Mei 2009

RAKERNAS JKLPK INDONESIA DI TORAJA


Ternyata Toraja menyimpan sejuta keindahan yang tidak ternilai. Salah satunya tentang budaya asli yang masih tersisa hingga saat ini. Rumah-rumah adat yang sangat indah serta keramahan warga menjadi kenangan tersendiri ketika selesai mengikuti Rapat Kerja Nasional JKLPK Indonesia yang diselenggarakan di Kondoran, Toraja. Foto ini bersama teman-teman sejaringan di Indonesia.

Lahewa, Indahnya Pantaimu.....


Foto Ini diambil saat selesai melakukan Assesment di Kecamatan Lahewa, Kabupaten Nias untuk Program Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat yang difasilitasi oleh Palang Merah Indonesia (PMI), International Federation of Red Cross (IFRC) bekerjasama dengan Pusat Kajian Sosial (Puska) Universitas Indonesia. Kegiatan Assesment berlangsung selama 3 minggu dibantu oleh Voulenter PMI Cabang Nias.

Indahnya Pantai Sorake


Ini fotoku saat dipercayakan oleh Konservasi Alam dan Lingkungan Hidup (KALi) sumatera Utara, sebuah NGO yang bergerak dibidang lingkungan melakukan Assesment untuk Program Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat yang mendapat dukungan dari Tearfund UK pada bulan Maret 2008. Foto ini diambil ketika selesai melakukan beberapa kegiatan FGD di Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias.

Rabu, 25 Februari 2009

Laskar Pelangi: Cerita Tentang Mimpi dan Perjuangan. Sebuah Pembelajaran Hidup


Perasaan yang bercampur aduk..
Rasa yang terus terjaga selama kurang lebih 120 menit menyaksikan sebuah karya audio visual berjudul laskar pelangi. Satu saat aku tertawa menyaksikan pola tingkah Ikal dan teman2 yang begitu polos dan bersahaja. Saat yang lain mataku menitikkan air bening ketika aku ikut terharu pada perjuangan mereka yang begitu gigih menggapai cita..
Aku sungguh beruntung..
Walau (setidaknya menurutku) ada bagian masa kecilku yang menyerupai kehidupan anggota Laskar Pelangi, besar di kota kecil, berteman dengan teman-teman yang sebagian adalah anak-anak yatim piatu yang kurang mampu, rawa, pantai dan belukar sebagai tempat bermain, dan melewati masa kecil dengan segala cerita yang begitu membekas di ingatanku, tapi aku jauh, sangat jauh lebih beruntung dari mereka.
Kotaku tidak terlalu terpencil dan aku tidak harus bersepeda berkilo-kilo jauhnya serta tergantung pada seekor buaya untuk berangkat sekolah. Dan aku tidak perlu belajar dengan diterangi lampu kaleng bila malam. rumahku telah dilengkapi oleh aliran listrik dan diterangi cahaya lampu-lampu listrik.


Ya, aku sering bermain di rawa dan belukar dekat rumah. Tapi aku juga punya mobil-mobilan, kelereng, layang-layang serta video games untuk bermain bersama teman.
Keluargaku, walau bukan orang kaya, adalah keluarga sederhana dari kalangan menengah. Aku masih bisa memilih untuk tidak harus bersekolah di sebuah sekolah yang nyaris tutup karena tidak bisa mendapatkan minimal 10 orang murid baru.
Aku bukan pula seorang anak yang karena keadaan harus menanggung kehidupan keluargaku, karena ibuku tak ada dan ayahku mati di laut. Aku anak ke lima dari 6 bersaudara yang berayahkan seorang pegawai negeri yang sanggup membiayai keluarganya dengan takaran yang pantas.
Sungguh, aku sangat lebih beruntung..
Miris rasanya memikirkan bahwa ada bagian dari negeri ini yang begitu terlupakan. Bahwa ada anak bangsa ini yang tidak mendapatkan hak pendidikan dengan layak. Ingatlah, bahwa pendidikan adalah hak setiap anak bangsa. Pendidikan, adalah kewajiban negara untuk memenuhinya..
Bayangkan, berapa lama negara ini akan tertunda kemajuannya karena diakibatkan tidak terpenuhinya hak anak bangsa untuk mengenyam pendidikan???
Bila ada begitu banyak anak serupa lintang, berapa lama kemajuan bangsa ini akan tertunda???
satu generasi..itulah harga ketertundaannya.
satu generasi yang tertunda, berarti setidaknya 40 tahun waktu yang terbuang percuma..
mari kita berhitung kasar:
bila usia produktif dimulai pada usia 23 tahun, maka Lintang sendiri akan membutuhkan setidaknya 23 tahun untuk mulai produktif. Dan bila pada usia itu ia telah memiliki anak yang ia jaga dan perjuangkan hak-haknya (termasuk pendidikan), maka baru 23 tahun berikutnya sang anak akan produktif dan turut bersumbangsih membangun negeri.
Maka, bila tidak hanya ada satu lintang di negeri ini, wajarlah bila negeri ini begitu lambat membangun dan mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lainnya..
Kisah Laskar pelangi juga memberiku pukulan telak, tepat di rasa egoku..
Aku adalah orang yang begitu bangga dengan rasa keadilan yang ada di dadaku.
Aku selalu merasa bahwa aku akan siap berada di barisan terdepan bila ada orang-orang terdekatku yang diperlakukan tidak adil.
Aku juga selalu merasa siap untuk membela (bahkan untuk mati) bila ada ketidakadilan di depanku. aku selalu merasa, dan aku dan aku dan aku….
tapi cobalah aku ingat lagi…
kemarin, saat aku membeli kebutuhan perutku di sebuah supermarket di kota ini, ada seorang bapak tua yang menjajakan opak (sejenis kerupuk) di depan pintu supermarket.
Sosok bapak itu tertangkap jelas di mataku…
lusuh, letih, sesekali menguap menandakan kantuk, dan terus mencoba menawarkan dagangannya kepada setiap yang terlihat, termasuk aku.
Sungguh, hatiku begitu iba melihatnya.. ingin aku berbagi rezeki dengannya. tapi aku ragu.
“apakah ia tidak akan tersinggung bila aku begitu saja memberikan uang kepadanya?”
“atau haruskah aku membeli dagangannya, sedangkan aku tidak begitu yakin dengan kebersihan barang yang ia jajakan?”
aku terus ragu, dan akhirnya tidak melakukan apa-apa.
kenapa aku begitu takut ia tersinggung??
kenapa tidak kubeli saja dagangannya, walau akhirnya opak itu tidak aku makan dan kuberikan kepada siapa saja yang mau??
kenapa aku ragu saat ingin kembali menghampirinya??
kenapa masih begitu panjang hitungan matematis di kepalaku mengenai berapa jumlah wajar yang bisa aku berikan padanya??
dan akhirnya, kenapa aku pergi begitu saja??
mana rasa keadilanku???
sesalku begitu terlambat dan begitu membekas….
coba aku bandingkan dengan guru-guru dalam cerita Laskar Pelangi.
mereka adalah contoh orang-orang yang ikhlas mengabdi, yang tidak terikat materi dan pejuang sejati..
Wajar adanya bila Ikal kemudian memiliki kesan begitu mendalam tentang mereka.
Wajar pula adanya bila akhirnya kesan itu mampu mendorong Andrea hirata mengisahkan pengalaman hidupnya kepada kita semua dengan begitu menginspirasi. seolah-olah kita semua adalah anggota laskar pelangi.
Maka adalah wajar pula bila aku ikut tertawa dan menitik haru..
Laskar Pelangi, mimpi, perjuangan, dan pembelajaran hidup…

dikutip dari : beingtogether.blog.friendster.com

Jumat, 09 Januari 2009

Perangkap Keterbatasan

Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga berlibur ke Lampung, sekedar untuk melihat dan mencoba menunggang gajah-gajah di sana. Menyaksikan mahluk terbesar yang ada di muka bumi ini merupakan hal yang sangat mengagumkan. Gajah adalah hewan mamalia yang lembut juga sangat kuat tenaganya.Seekor gajah jantan memiliki kekuatan dan mampu untuk menumbangkan sebuah pohon dan mengangkat batang kayu gelondongan hanya dengan menggunakan belalainya. Satu hal yang mengejutkan adalah tidak adanya kandang untuk gajah. Mungkin kita dapat mengurung singa, beruang dan harimau tapi tidak pernah ada kandang untuk gajah. Mengapa bisa begini? Bagaimana cara menahan mahluk yang sangat kuat ini dari niatan melarikan diri. Yang mereka lakukan hanya mengikatkan seutas tali (atau rantai tipis) ke kaki gajah dan mengikatnya ke sebuah batang yang ditancapkan ke tanah. Sekali kakinya sudah terikat, maka ia tidak akan mencoba melarikan diri lagi. Sekarang, apakah Anda pikir gajah tersebut tidak mampu menghancurkan rantai atau tali tersebut bila dia mau? Tentu saja bisa dan mampu, bahkan bisa menumbangkan sebuah pohon. Tapi mengapa dia tidak memutuskan tali tipis yang melingkar di kakinya? Jawaban yang saya dapatkan dari para pawang gajah adalah dengan membiarkan gajah-gajah tersebut percaya bahwa dia tak bisa memutuskan tali tersebut. Keadaan ini berlangsung sejak kecil… Ketika seekor bayi gajah lahir dan masih terlalu lemah untuk berjalan bahkan berdiri, mereka (para pawang) mengikat kaki gajah kecil itu ke sebuah batang yang ditancapkan ke tanah. Dan dapat dipastikan ketika bayi gajah tersebut mencoba berlari menuju induknya, ia tidak dapat memutuskan tali tersebut. Ketika ingin melarikan diri, tali itu akan menggenggam kaki gajah dan dia akan jatuh di atas tanah. Tidak jera, sang gajah akan berdiri dan mencoba kembali. Dia akan berlari menuju induknya hanya untuk mendapatkan kaki yang terikat dan badan yang terentak ke tanah. Setelah mengalami kesakitan yang berulang-ulang, suatu ketika, sang gajah tidak akan berusaha menarik rantai lagi. Pada saat itu terjadi, para pawang tahu bahwa gajah tersebut telah terkondisi untuk terperangkap sepanjang hidupnya. Saya benar-benar tertarik sekali dengan cerita sang pawang gajah, dan ketika saya menyaksikan bagaimana mahluk kuat ini diamankan hanya dengan rantai tipis yang seharusnya dengan mudahnya dapat diputuskan oleh sang gajah. Analogi cerita di atas adalah saya menyaksikan,bagaimana orang-orang yang saya temui tiap hari mengalami keterperangkapan yang sama dengan keterbatasan keyakinan mereka dan kebiasaan yang dengan mudah dapat diubah namun tidak mereka lakukan. Sebagai manusia, kita sama seperti gajah dengan berbagai macam potensi untuk mendapatkan mimpi apapun yang kita inginkan, dari menjadi seorang jutawan sampai menjadi orang yang dapat membuat perbedaan di dunia. Namun, cukup banyak orang yang dengan kemampuannya tidak berani mengambil tindakan karena mereka percaya bahwa mereka tidak dapat melakukannya. Mereka kuatir bahwa yang mereka lakukan akan gagal total. Bisa jadi sewaktu muda, mereka gagal dan jatuh berkali-kali sama seperti bayi gajah tersebut. Mungkin sewaktu mereka muda, orang tua mereka mengatakan mereka malas dan bodoh. Mungkin teman-teman mereka menjuluki mereka si kuper. Mungkin guru mereka pernah mengatakan mereka tidak dapat melakukan apa-apa. Sebagai hasil dari keadaan masa lalu, orang-orang akan berpikir bahwa mereka tidak dapat melakukan apapun. Sama seperti gajah tersebut, mereka berpikir bila aku tidak bisa melakukannya di masa lalu bagaimana bisa aku melakukannya sekarang? Di masa lalu aku seorang yang pemalas, jadi bagaimana bisa aku menjadi orang pekerja keras. Di masa lalu aku tidak percaya diri, bagaimana aku bisa percaya diri sekarang. Di masa lalu aku seorang yang menangkap pelajaran dengan lambat, sekarang bagaimana aku bisa menangkap pelajaran dengan cepat. Di masa lalu aku tidak bisa berbicara dengan baik, bagaimana aku bisa sekarang? Apa yang tidak dilihat oleh orang-orang ini adalah bahwa masa lalu tidak sama dengan masa depan. Mereka tidak menyadari sama seperti yang dialami gajah tersebut, bahwa sebenarnya mereka bukan orang yang sama lagi. Sang gajah tidak menyadari di masa lalu dia tidak memiliki kekuatan seperti yang ia miliki sekarang. Saya ingin Anda tahu bahwa tiap hari Anda akan bangun menjadi orang yang berbeda. Orang yang semakin bertambah ilmu, pengalaman dan orang yang bijaksana. Tahukah Anda bahwa jutaan sel di tubuh kita mati setiap hari dan digantikan dengan yang baru. Bila Anda telah membiarkan keyakinan dan kebiasaan yang lama merantai diri Anda, bukankah sudah saatnya menggunakan tenaga dan kemauan Anda sekarang untuk melepaskan diri dari penjara ketidakmampuan dan melangkah menuju kebebasan, sukses dan kemapanan yang memang berhak kita dapatkan. “CARI! dan Anda akan mendapatkannya. Hidup adalah untuk mencari. Jika Anda tidak mencari, Anda akan stagnan. Diam di tempat adalah langkah mundur, waktu ataupun dunia tidak akan menunggu Anda. Jadi cari, atau mati secara perlahan lahan” - Dato Vijay Eswaran - “Jika Anda membatasi pilihan hanya pada apa yang tampaknya mungkin atau masuk akal, Anda telah melepaskan diri dari apa yang sungguh-sungguh Anda inginkan, dan yang tertinggal hanyalah kompromi dan keterpaksaan” - Robert Fritz -
source: unknown