BAB V
GEREJA DAN CARA PANDANG
TERHADAP KEPEMUDAAN
KONPERENSI PEMUDA HKBP 2000
Pada bulan Pebruari 2000, dengan kepercayaan yang diberikan oleh Departeman Pemuda HKBP, penulis beserta beberapa pemuda gereja di Sumatera Utara di tetapkan menjadi Panitia Konperensi Pemuda HKBP yang akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2000 di Sidikalang – Dairi yang rencananya akan dihadiri sekitar 1.000 orang pemuda HKBP se-Indonesia.
Moment ini menjadi catatan sejarah yang sangat berarti bagi penulis karena KONPERENSI PEMUDA HKBP 2000 di Dairi ini merupakan KONPERENSI ke – 2 setelah KONPERENSI PEMUDA tahun 1990 di Sipirok, Tapanuli Selatan.
Dengan segala pengetahuan yang dimiliki, penulis bersama teman-teman panitia mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan persiapan Konperensi itu. Mulai dari urusan Proposal, inventarisir nama-nama orang yang diharapkan sebagai Donor, survey lokasi kegiatan hingga mempersiapkan panitia local yang akan membantu panitia pusat selama kegiatan berlangsung di Sidikalang – Dairi.
Di hari “H” pelaksanaan Konperensi, khususnya pada saat akan diadakannya pemilihan pengurus pusat pemuda HKBP yang waktu itu dinamai PPNP, penulis tidak menduga mendapat dukungan dari banyak pihak khususnya dari pemuda HKBP di Sumatera bagian Utara untuk turut dicalonkan sebagai Ketua Umum PPNP untuk masa bakti 2000 – 2003.
Walau pada awalnya penuli sempat ragu dengan dukungan itu, tetapi teman-teman pemuda berhasil meyakinkan penulis untuk tetap maju dalam proses pemilihan.
Tanpa di duga, dukungan kepada penulis untuk menjadi Ketua Umum PPNP HKBP semakin banyak jumlahnya sehingga diyakini pasti akan menang karena calon-calon yang lain hanya memperoleh sedikit dukungan.
Tiba di hari pemilihan, beberapa calon termasuk penulis di hadirkan oleh Majelis Persidangan di depan peserta Konperensi Pemuda untuk ditanya soal kesediaan serta syarat-syarat lain yang harus terpenuhi.
Tak disangka, criteria-kriteria yang di tetapkan dalam syarat pencalonan bisa dilalui penulis dengan baik hingga akhirnya turut dalam proses pemilihan selanjutnya.
Dengan hati yang dilanda beragam suasana, akhirnya majelis persidangan mengumumkan nama yang menjadi pemenang pertarungan pemilihan Ketua Umum PPNP HKBP tersebut dan nama penulis merupakan calon yang meraih suara terbanyak dari 3 calon yang lain.
Dengan penuh sukacita, para pendukung yang sedari awal sudah memprediksi kemenangan itu langsung mengelu-elukan nama penulis dan ada pula diantara mereka datang kekursi untuk memeluk dan menciumi penulis, salah satu diantaranya adalah sang pacar yang banyak memberikan dorongan dan semangat yang kini telah menjadi ibu dari Nadine, putri tercintaku.
Di ibadah penutupan Konperensi Pemuda HKBP 2000, para pengurus PPNP dilantik oleh Pimpinan HKBP walau hingga periode berakhir tak ada SK yang dikeluarkan oleh Pimpinan HKBP sebagai bentuk pengakuan.
STRUKTUR BARU TANPA DUKUNGAN
Pasca berakhirnya Konperensi Pemuda HKBP 2000, penulis bersama pengurus PPNP yang terpilih kemudian melanjutkan proses persiapan organisasi, salah satu diantaranya adalah untuk “menggolkan” hasil keputusan KONPERENSI PEMUDA HKBP 2000 (KP-2000) di Sinode Godang Kerja HKBP pada bulan Nopember 2000 di Sipoholon.
Karena Pelaksana Pelayanan Naposobulung Pusat (PPNP) masih baru di dalam struktur organisasi NHKBP yang selama ini hanya memiliki Pengurus di tingkat Distrik, Resort dan Huria (Jemaat), proses memperjuangkan hasil keputusan KP – 2000 mengalami banyak kendala.
Rasa frustasi kelihatan dari wajah Direktur Pemuda HKBP yang waktu itu dijabat Pdt.Elisa Simaibang,STh yang selama ini turut mendukung kehadiran PPNP di HKBP melihat kondisi PPNP yang minim dukungan dari kalangan pendeta.
Akhirnya Sinode Godang HKBP tidak menerima beberapa keputusan KP – 2000. Salah satunya menyangkut keberadaan PPNP HKBP yang dikhawatirkan akan membebani anggaran HKBP ke depan.
Penulis sendiri melihat bahwa alasan membebani anggaran bukanlah alasan yang sebenarnya karena munculnya PPNP sempat dikhawatikan berbagai pihak di tubuh HKBP sebagai organisasi yang suatu saat bisa mengancam keberadaan HKBP dari sudut social dan politik yang pada waktu itu masih sangat panas pasca runtuhnya kekuasaan Orde Baru.
Tanpa membuka ruang dialog kepada unsure Pengurus PPNP, akhirnya PPNP berjalan tanpa dukungan HKBP walau secara tidak langsung Direktur Pemuda HKBP masih memberi perhatian terhadap keberadaan PPNP dengan memberikan izin menggunakan salah satu ruangan di Komplek Perkemahan Pemuda HKBP Jetun Silangit sebagai kantor sekretariat.
Perlahan-lahan dukungan dari Departemen Pemuda HKBP semakin berkurang hingga akhirnya penulis mengambil inisiatif untuk meninggalkan Jetun Silangit setelah terlebih dahulu berkonsultasi dengan banyak pihak tentang keberlanjutan PPNP.
Hingga habis periodenya di tahun 2003, tak satupun pihak yang perduli dan mempertanyakan keberadaan PPNP, baik kepada Direktur Pemuda HKBP dan penulis sebagai Ketua Umum PPNP HKBP.
Kondisi ini kemudian berdampak hingga saat ini, dimana organ-organ NHKBP yang selama ini memiliki peran besar dalam pemberdayaan naposobulung seperti PPND, PPNR dan PPNH telah diganti dalam konstitusi HKBP yang baru. Masa-masa kejayaan pemuda HKBP di era 1990 – 2000 yang kerap aktif terlibat dalam aksi-aksi social kemasyarakatan tak lagi kelihatan. Pemuda HKBP yang dulu kerap diundang mengikuti pelatihan-pelatihan di lembaga-lembaga social kemasyarakatan dan NGO kini entah dimana keberadaannya. Suasana itu kini telah hilang walau tentunya masih banyak yang merindukan.
BAB VI
BELAJAR DAN BERTINDAK DI MASA BENCANA
MENERIMA MANDAT DALAM PENANGGULANGAN BENCANA TSUNAMI DAN GEMPA 2004
Bencana tsunami dan gempa yang melanda NAD dan Nias Sumatera Utara pada bulan Desember 2004 telah menimbulkan banyak korban tewas. Hal inilah yang kemudian membawa penulis masuk dalam proses-proses penanggulangan bencana walau tidak secara langsung turun ke lokasi bencana.
Untuk membantu proses evakuasi, pengadaan logistic dan obat-obatan maka penulis diberi mandat oleh Olvy Prihutami, Direktur JKLPK Indonesia (kini bekerja di Departemen Koinonia PGI) sebagai penanggung jawab Posko Kemanusiaan Untuk Korban Bencana Alam NAD dan Nias didukung beberapa NGO yang ada di luar Sumatera.
Proses pengiriman tenaga medis, sembako dan obat-obatan ke lokasi bencana menjadi tanggung jawab Posko di Medan. Melalui kerjasama inilah penulis kemudian mengenal Yayasan Sheep, PELKESI, CWRC, YTB, dan Tearfund, NGO Nasional dan Internasional yang mendukung tugas-tugas kemanusiaan di NAD dan NIAS.
Hingga akhir April 2005, Posko Kemanusiaan yang ditanggung jawabi penulis telah berhasil mengirimkan puluhan orang tenaga medis dan teknis, puluhan ton bantuan makanan dan obat-obatan ke NAD dan Nias.
MELAKUKAN ASSESMENT
Pengalaman lain yang dirasakan penulis adalah ketika Pusat Kajian (PUSKA) Universitas Indonesia melalui Irma Simanjuntak,SP (kini bekerja di YAKOMA PGI) meminta kesediaan penulis untuk mendampinginya sebagai Assisten Fasilitator untuk melakukan assessment di Pulau Nias dalam rangka mempersiapkan program Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Nias bekerjasama dengan International Federation Red Cross (IFRC). Kegiatan ini berlangsung selama 3 minggu di beberapa desa di kecamatan Lahewa, Kabupaten Nias.
Kegiatan assessment yang banyak melibatkan partisipasi masyarakat ini memberi makna yang dalam bagi penulis untuk melihat realitas kehidupan rakyat yang pernah menjadi korban bencana alam. Keterpurukan akibat hilangnya alat-alat produksi yang di lenyapkan oleh bencana gempa membawa rakyat pada kesengsaraan hidup.
Beragam harapan dan keinginan rakyat agar segera pulih dari keterpurukan ekonomi disampaikan kepada team assessment melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD). Partisipasi rakyat untuk menggali potensi yang dimilikinya pasca bencana alam merupakan tujuan FGD ini agar dalam mempersiapkan programnya, Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Nias mampu menyerap keinginan rakyat dan mengimplementasikannya bersama rakyat.
Kerusakan akibat bencana gempa yang melanda Nias menumbuhkan solidaritas seluruh bangsa. Partisipasi NGO-NGO Internasional untuk memulihkan kehidupan masyarakat Nias tergambar dari proses-proses pembangunan yang dilakukan di seluruh wilayah Nias. Tak cuma pemukiman yang dibangun, tetapi penyediaan sarana usaha dan peningkatan sumber daya manusia turut menjadi perhatian seluruh pihak agar Nias bangkit seperti apa yang diimpikan masyarakatnya.
Tahun 2007, penulis dipercayakan oleh Konservasi Alam dan Lingkungan Hidup (KALi) Sumatera Utara untuk melakukan assessment kembali di Pulau Nias bekerjasama dengan Tearfund Inggris dalam rangka mempersiapkan program penanggulangan bencana yang difokuskan di Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias Barat.
Kegiatan ini berlangsung selama 3 minggu di beberapa desa yang harus dijalani dengan sepeda motor. Semangat rakyat korban bencana untuk bangkit dari keterpurukan kelihatan dari antusiasnya mereka mengikuti seluruh proses kegiatan walau jalan yang harus mereka tempuh sangat jauh menuju lokasi kegiatan.
Proses assesment ini sangat membantu lembaga dalam merumuskan program karena hasilnya berangkat dari kebutuhan masyarakat. Karena ia berasal dari kebutuhan masyarakat maka implementasinya ke depan akan bisa diserap rakyat dengan mudah.
Dari pengalaman assessment ini, penulis melihat bahwa pengetahuan tentang kebencanaan sangat penting bagi masyarakat mengingat wilayah Indonesia yang kerap diancam bencana seperti gempa, tsunami, banjir banding, tanah longsor, kebakaran hutan, dll.
0 komentar:
Poskan Komentar