BAB III
MELATIH IDEALISME DI MASA KONFLIK
KRISIS HKBP SEBAGAI AWAL
Selama 12 tahun, penulis telah mengabdikan diri di dunia pemberdayaan masyarakat walau harus berpindah-pindah lembaga dan tempat tetapi komitment untuk melayani sesama tidak pernah lekang dari diri penulis hingga saat ini.
Krisis yang melanda HKBP sejak tahun 1992 – 1998 akibat intervensi militer ke tubuh gereja yang menimbulkan terjadinya konflik horizontal yang menelan banyak korban jiwa dikalangan warga gereja menjadi titik awal keterlibatan penulis dalam aktivitas-aktivitas social kemasyarakatan yang pada akhirnya menjadi media perlawanan terhadap penguasa Orde Baru pada waktu itu.
Terjadinya intimidasi yang mengarah ke tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat militer dan preman kepada orang tua penulis yang pada waktu itu menjadi Pendeta di salah satu gereja HKBP di Kota Medan telah menyadarkan penulis bahwa ternyata penguasa orde baru telah menganggap Gereja sebagai musuh karena semakin kritisnya Gereja HKBP yang waktu itu dipimpin oleh Pdt.DR.S.A.E.Nababan,LLD yang dengan gagah berani menentang penguasa Orde Baru yang selalu menghalalkan kekerasan dalam rangka mempertahankan kekuasaannya di Indonesia.
Sejak 1992 – 1998, penulis bersama pemuda-pemuda HKBP turut aktif menyuarakan kebenaran kepada dunia bahwa Gereja HKBP dan wargaya telah mengalami pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) berupa tindak kekerasan yang luar biasa dari aparat militer dan preman yang dibacking penguasa Orde Baru.
Aksi-aksi penolakan terhadap tindak kekerasan tak cuma di suarakan di Medan, Sumatera Utara, tetapi turut disuarakan bersama warga HKBP di Gedung DPR RI Senayan, Kantor Panglima ABRI, Kantor Menhankam dan Kantor Departemen Agama di Jakarta.
Sembari mengusung isu pelanggaran HAM di tubuh HKBP, penulis beserta aktivis mahasiswa yang meminta Suharto untuk turun dari kursi kekuasaannya melakukan aksi demonstrasi besar-besaran di gedung DPRD Sumatera Utara hingga aksi-aksi yang berlangsung di seluruh Indonesia berhasil memaksa Suharto untuk turun dari kekuasaannya.
Runtuhnya kekuasaan Orde Baru pada tahun 1998 akhirnya membawa angin segar bagi upaya mengakhiri konflik di tubuh gereja HKBP. Dengan semangat perdamaian, dua belah pihak yang bertikai akhirnya bisa mengakhiri konflik dan disambut sukacita oleh seluruh warga gereja HKBP.
BAB IV
LEARN WITH PEOPLE
(BELAJAR KEPADA / BERSAMA RAKYAT)
BERSAMA RAKYAT MENOLAK KEHADIRAN PT.INTI INDORAYON UTAMA (IIU) DI PORSEA.
Meskipun kekuasaan Orde Baru telah diruntuhkan hingga menghantarkan rakyat Indonesia masuk ke era Reformasi, peristiwa kekerasan terhadap rakyat tak juga berhenti. Salah satu peristiwa kekerasan yang terjadi adalah pada saat ribuan rakyat Porsea melakukan aksi unjuk rasa di Simpang Sirait Uruk yang mendesak Pemerintah untuk segera menutup PT. Inti Indorayon Utama (IIU).
Aksi unjuk rasa ini kemudian berubah menjadi aksi kekerasan yang dilakukan oleh aparat militer dan polisi hingga menimbulkan banyak korban di pihak rakyat.
Akibat peristiwa itu, kondisi daerah Porsea mencekam karena aparat menurunkan anggotanya untuk melakukan penangkapan terhadap aktivis-aktivis yang diduga menjadi provokator dalam aksi rakyat Porsea tersebut.
Karena semakin banyaknya warga dan aktivis yang ditangkap pasca aksi unjuk rasa tersebut yang umumnya mengalami kekerasan, maka bersama beberapa NGO yang selama ini aktif mendampingi warga Porsea seperti WALHI, WALHISU, KSPPM, YAPIDI, BAKUMSU, LENTERA, BITRA, JKLPK INDONESIA, dll membuka POSKO KEMANUSIAAN UNTUK KORBAN KEKERASAN INDORAYON yang juga melibatkan JKLPK Regional Sumatera dimana penulis bekerja sebagai staff pada waktu itu.
Meskipun perjuangan rakyat untuk menolak kehadiran PT.IIU telah banyak menimbulkan korban, walau akhirnya PT.IIU tetap bisa beroperasi dengan melakukan perubahan manajemen dan nama perusahan menjadi PT.Toba Pulp Lestari (TPL). Hingga saat ini perjuangan penolakan terhadap kehadiran PT.IIU/PT.TPL belum berhenti.
BELAJAR DAN BERLATIH TENTANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Pada tahun 1999, melalui seleksi yang ketat dan dorongan keluarga serta teman-teman pemuda gereja HKBP di Distrik X Medan – Aceh, penulis kemudian berangkat ke Jakarta bersama 7 orang pemuda gereja dan mahasiswa untuk mengikuti “PENDIDIKAN POLITIK UNTUK PEKERJA MASYARAKAT” pada tanggal 2 Pebruari – 2 Maret 1999 di Jakarta yang di fasilitasi oleh Yayasan Komunikasi Masyarakat (YAKOMA) PGI yang pada waktu itu dipimpin oleh Bapak Indra Nababan.
Beragam narasumber dihadirkan untuk memberikan pencerahan sekaligus transformasi pengetahuan yang tentunya akan bermanfaat ketika peserta melakukan aktivitas pemberdayaan masyarakat. Penulis masih ingat beberapa diantara narasumber yang hadir, antara lain: Pdt.DR.S.A.E.Nababan,LLD, DR. Victor Silaen, Marojahon Doloksaribu, Sabam Sirait, James Simorangkir dan Arthur Horoni.
Selama di YAKOMA, penulis bersama puluhan pemuda/I gereja dan mahasiswa Kristen dari berbagai daerah di Indonesia dididik dan dilatih untuk bisa lebih terampil dalam memimpin, mengorganisir dan mendampingi masyarakat marginal dan terpinggirkan.
Melalui pelatihan ini, penulis banyak memperoleh ilmu tentang penulisan dan penggunaan media sebagai alat mempermudah transformasi pengetahuan.
LIVE IN (TINGGAL DAN HIDUP) PERTAMA KALI BERSAMA RAKYAT
Dengan rekomendasi Indra Nababan (YAKOMA PGI), penulis yang telah mengikuti “PENDIDIKAN POLITIK UNTU PEKERJA MASYARAKAT” selama sebulan di YAKOMA PGI JAKARTA kemudian diberi kesempatan mengikuti orientasi kelembagaan di Kelompok Study Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) di Parapat yang pada waktu itu di pimpin oleh Bang Poltak Simanjuntak yang kini memimpin Lembaga Study Pelestarian Lingkungan (LSPL) di Medan, Sumatera Utara. KSPPM merupakan NGO/LSM tertua di Sumatera Utara setelah BITRA dan YAPIDI. Saat ini usianya sudah hamper 27 tahun tetapi tetap komitment melakukan pemberdayaan masyarakat di wilayah Tapanuli, Dairi dan Samosir.
Pada kesempatan orientasi kelembagaan ini, penulis ditempatkan di wilayah Humbang Silindung, tepatnya di Siborongborong, tempat kelahiran penulis, dimana pos pelayanan KSPPM berada.
Di orientasi kelembagaan yang saya ikuti selama 6 bulan lamanya, banyak pengalaman-pengalaman yang sangat berkesan ketika mengikuti proses-proses pendampingan masyarakat sekaligus belajar banyak tentang strategi pengorganisasian rakyat yang dilakukan KSPPM di wilayah tersebut.
Bapak Bangun Nababan, warga dampingan KSPPM yang berasal dari desa Sijabi-jabi – Lintong Ni Huta menjadi rekan sekerja dalam pendampingan di wilayah Siborongborong. Meski bertubuh pendek, tetapi ia seorang yang sangat cekatan bahkan mampu menguasai dan mengendarai sepeda motor yang justru lebih tinggi dari tubuhnya. Bukan hanya itu saja, bapak beranak 4 ini sangat menguasai lapangan sehingga penulis tidak ragu bila diajak beliau kemanapun untuk mengunjungi warga dampingan KSPPM. Dalam orientasi inilah penulis kemudian menerapkan pengetahuan dan keterampilan “mengorganisir” yang telah diperoleh selama 1 (satu) bulan di YAKOMA PGI.
Beragam karakter manusia yang harus dihadapi dalam proses pendampingan masyarakat yang kerap bisa meruntuhkan semangat kita karena ketidakpedulian mereka terhadap kondisi kehidupannya.
10 langkah pengorganisasian rakyat yang tertulis dibuku terbitan YAKOMA PGI menjadi acuan bagi penulis dalam melakukan strategi pendampingan di wilayah Humbang Silindung bersama Bangun Nababan.
Langkah pertama berupa “integrasi” diawali penulis untuk tinggal dan hidup di tengah-tengah keluarga Bangun Nababan di desa Sijabi-jabi – Lintongnihuta. Desa yang jauh dari keramaian kota dan jarak rumah yang cukup berjauhan tentunya memberi kesan dan suasana yang sangat sepi di desa tersebut. Belum lagi aktivitas masyarakat yang umumnya petani hampir tidak memiliki waktu luang di tengah-tengah keluarga karena kehidupan mereka tercurah dalam pekerjaan bertani di tengah sawah dan ladang yang terbentang luas.
Tinggal dan hidup bersama keluarga Bangun Nababan akhirnya tak cuma mengenal kehidupan keluarga itu saja, tetapi bisa melihat lebih luas bagaimana proses perjalanan hidup warga yang ada di Sijabijabi setiap harinya.
Diuji oleh kebiasaan hidup warga Sijabijabi yang setiap pukul 05.00 WIB sudah bangun dari tidur dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk dibawa ke sawah, penulis akhirnya mampu beradaptasi dengan kondisi itu.
Walau suhu udara sangat dingin, penulis akhirnya membiasakan diri untuk bangun pukul 05.00 WIB, kemudian menemani pak Bangun Nababan duduk disisi perapian sambil menikmati segelas kopi hingga sang istri selesai mempersiapkan perlengkapan yang akan dibawa ke sawah bersama serantang nasi dan lauknya untuk makan siang.
Pukul 05.30 WIB, kami membasuh wajah dengan air sumur yang membuat wajah terasa beku karena dinginnya air, lalu melangkah menuju sawah yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah mereka.
Ada rasa nyaman dan gembira ketika kaki menginjak gumpalan lumpur di sawah karena suasana itu membuka mataku bahwa kehidupan ternyata harus dijalani dengan semangat dan kegembiraan.
Akhir Juni 1999, penulis mengakhiri masa orientas kelembagaan di KSPPM. Banyak ilmu dan keterampilan yang diperoleh bahkan membuka peluang-peluang yang sangat baik bagi peningkatan kapasitas karena KSPPM selalu terbuka bagi penulis untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pelatihan yang mereka fasilitasi.
0 komentar:
Poskan Komentar