BAB I
PENGANTAR DARI PENULIS
Adalah sebuah kehormatan bagi penulis ketika adik kami Jerry Edhy Manullang, ketua Komisi Pemuda PGI Wilayah Sumatera Utara yang juga Direktur Eksekutif di ELSAPPA tempat penulis berkecimpung meminta kesediaan saya untuk membuat sebuah tulisan tentang “Panggilan Iman Untuk Pemberdayaan Rakyat”. Walau permintaan ini sudah berulangkali di sampaikan melalui email dan sms, tetapi karena kesibukan yang cukup padat akhirnya penulis baru menyelesaikannya 2 minggu sebelum seluruh tulisan yang diminta akan naik cetak dan diterbitkan dalam sebuah buku.
Tulisan ini hanya merupakan sebuah rangkaian pengalaman penulis sejak mulai aktif terlibat dalam aksi-aksi social kemasyarakatan dan pemberdayaan rakyat yang terinspirasi dari pengalaman pelayanan ayah tercinta dan ingin di bagi kepada seluruh teman-teman pemuda gereja dengan harapan agar semakin banyak orang yang terpanggil untuk melayani sesama sebagai wujud tri tugas panggilan dalam menghadirkan kerajaan Allah di bumi seperti di surga. Kiranya tulisan ini bisa bermanfaat bagi pembaca sekalian.
BAB II
LATAR BELAKANG
GEREJA DAN PANGGILAN DIAKONIA
Salah satu tugas penting warga gereja dalam tri tugas panggilan orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus adalah melaksanakan tugas diakonia (melayani). Tugas Diakonia inilah yang kemudian diartikan penulis dalam kegiatan Pemberdayaan Masyarakat. Karena tugas panggilan inilah yang kemudian mendorong gereja-gereja membentuk lembaga pemberdayaan masyarakat seperti : Pengmas HKBP, Parpem GBKP, Pengmas GMI, Pelpem GKPS, dan lain-lain.
Membebaskan manusia (masyarakat) dari kebodohan, ketertindasan, kemiskinan, dan keterpurukan serta memberitakan janji Allah kepada manusia adalah visi yang harus dilakukan di tengah-tengah dunia. Visi inilah yang kemudian di amanati penulis sebagai panggilan iman yang harus di kembangkan kepada generasi berikutnya.
Gereja harus menjadi panutan tak cuma di tunjukkan lewat pemberitaan injil, tetapi injil harus diimplementasikan secara kontekstual melalui pemberdayaan masyarakat.
Kemiskinan yang dialami masyarakat terlebih warga gereja tak selamanya menjadi kesalahan masyarakat. Tetapi kondisi ini menjadi bahan refleksi seluruh komponen tak terkecuali gereja agar tidak hanya berpikir untuk memperkaya kebutuhan rohani saja, tetapi gereja harus mampu memperkaya pengetahuan dan keterampilan warga gereja untuk bisa berkarya dan berkreatifitas sehingga mampu mensejahterahkan hidupnya.
Kreatifitas akhirnya dibutuhkan oleh seluruh komponen gereja agar mampu meningkatkan partisipasinya dalam pemberdayaan masyarakat (warga gereja).
Untuk itulah, dalam konteks pelayanan diakonia ini seluruh komponen yang terlibat di dalam pelayanan gereja harus memiliki pengetahuan lain di luar theologia agar bisa dijadikan alat untuk memperkaya pengetahuan masyarakat (warga gereja) seperti apa yang telah dikembangkan melalui Pengmas, Parpem, Pelmas dan Pelpem Gereja selama ini.
Kondisi masyarakat (warga gereja) yang sebahagian besar bekerja sebagai petani, nelayan, buruh industri, buruh perkebunan, pedagang kaki lima, pedagang asongan, dll merupakan golongan masyarakat yang selama ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah khususnya dalam peningkatan pendapatan dan kualitas hidup masyarakatnya. Belum lagi dengan beragam konflik yang terjadi antara petani dengan pengusaha bahkan pemerintah yang dengan sesukanya menggusur mereka dari tanah yang memberinya nafkah hanya untuk kepentingan investasi. Kasus-kasus seperti ini kerap terjadi di Sumatera Utara bahkan dialami warga gereja. Belum lagi pertikaian buruh dengan pengusaha menyangkut gaji, tunjangan dan fasilitas kesehatan yang kerap tidak pernah di perhatikan. Ini kerap melanda warga gereja yang bekerja di perusahaan-perusahaan industri yang ada di wilayah Batam, Kepulauan Riau.
Kasus-kasus inilah yang kemudian mendorong gereja harus melakukan pelayanan diakonianya agar masyarakat (warga gerejanya) tidak frustasi dalam iman tetapi tetap berpengharapan. Dengan adanya partisipasi gereja yang memberikan perhatian melalui peningkatan kapasitas melalui pelatihan-pelatihan yang terintegrasi (langsung dan berkelanjutan) akan membawa keyakinan dan kepercayaan diri masyarakat (warga gereja) untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Penulis teringat dengan kalimat yang pernah diucapkan ayahnya Pdt.A.B.Simanjuntak …..”untuk menjadi seorang pelayan, tak perlu harus menjadi seorang pendeta. Tetapi melayanilah seperti seorang pendeta kepada jemaatnya. Bantu dan layanilah orang-orang miskin di sekitarmu, buatlah mereka menjadi kaya dengan pengetahuan dan keterampilan agar mereka terbebas dari kemiskinan dan penderitaan”.
Walau pada akhirnya tak satu orangpun dari anak-anak Pdt.A.B.Simanjuntak yang terpanggil menjadi seorang Pendeta, namun kalimat yang pernah diucapkan ayah penulis menjadi nasehat pendorong semangat penulis untuk melakukan kerja-kerja social dibidang pemberdayaan masyarakat.
0 komentar:
Poskan Komentar